Transformasi E = mc2 ke dalam Bisnis dan Manajemen | Terasiku ™

20 November 2008

Transformasi E = mc2 ke dalam Bisnis dan Manajemen

Artikel berikut ini adalah tentang konsep rumus relavitas Einstein ke dalam bisnis dan manajemen. Mengenai mindset, jangan tanya saya ya? Tanya saja sama praktisinya.

Albert Einstein menciptakan teori relativitas yang menyatakan bahwa ruang dan waktu adalah relatif. Ia pun menyatakan bahwa terdapat hubungan antara massa benda dengan energi yang dapat ditimbulkan. Formulanya adalah E = mc2.

Artinya adalah energi ekuivalen dengan massa suatu benda dalam keadaan diam dan kecepatan cahaya (c) dalam ruang hampa udara.

Lalu bagaimana menerapkannya dalam lingkup organisasi dan manajemen atau dalam lingkup bisnis? Karena organisasi pun perlu bergerak demikian juga dengan bisnis, sedangkan untuk maju, organisasi memerlukan energi.

Transformasi ke dalam Ilmu Manajemen

Suatu organisasi pada prinsipnya harus mempunyai energi berupa kekuatan untuk bergerak mencapai tujuannya. Setiap oragnisasi digerakkan oleh kekuatan atau tenaga manusia yang bekerja dalam organisasi tersebut. Dengan perkataan lain, agar suatu organisasi mempunyai energi kerja, maka orang-orang yang menggerakkan organisasi tersebut harus mempunyai daya dorong (motivasi) untuk menggerakkan organisasi tersebut dalam mencapai tujuannya. Motivasi kerja itulah yang berkaitan dengan energi.

1. Motivasi Kerja (Work Motivation)

Menurut Victor Vroom dalam buku Work and Motivation dinyatakan bahwa motivasi seseorang dalam menggerakkan suatu pekerjaan dipengaruhi 3 (tiga) variabel, yaitu

1. harapan (expectacy) h (harapan)

2. alat atau bersifat alat (instrumentality) a (alat)

3. ketertarikan pada pekerjaan (valence) v (valensi)

Jadi, M = f (h, a, v), dimana M adalah motivasi kerja, artinya motivasi merupakan fungsi dari harapan, alat dan ketertarikan.

Dapat dijelaskan di sini bahwa antara dorongan kerja (motivasi) dengan ketiga variabel tersebut mempunyai hubungan untuk memperoleh sesuatu (upah, promosi, atau pujian) dari suatu pekerjaan, dorongannya (motivasi) semakin kuat. Demikian pula peralatan kerja yang dapat digunakan untuk mengerjakan suatu pekerjaan mempunyai pengaruh terhadap motivasi karena dengan alat yang tersedia berarti hasil pekerjaannya akan lebih baik dan pengerjaannya lebih mudah. Misal, seorang mekanik (montir) akan lebih besar motivasi mereparasi suatu mobil jika tersedia peralatan kerja yang lengkap. Hasilnya akan lebih baik dan proses pengerjaannya lebih cepat. Mengenai tingkat ketertarikan (valence) seseorang terhadap suatu pekerjaan akan mempengaruhi daya dorong (motivasi) untuk mengerjakannya. Apabila ketertarikannya tinggi, tentu motivasinya besar. Nilai atau bobot dari masing-masing variabel tersebut adalah sebagai berikut.

Bobot (nilai) harapan (expectacy), peralatan (instrumentality) dan ketertarikan (valence) adalah 1-10, dimana angka terendah (1) menunjukkan sangat kecil, tidak ada fasilitas alat bantu untuk menyelesaikan pekerjaan atau mungkin ketertarikannya sangat rendah. Sedangkan bobot atau nilai 10 menunjukkan sebaliknya. Victor Vroom menyatakan bahwa khusus mengenai harapan (expectacy) dipengaruhi pula oleh variabel lain, yakni

a. percaya diri (self esteem), dan

b. Kemanjuran diri (self efficacy)

Jadi, h = f (pd, Kd)

Dimana h = harapan; Pd = percaya diri; dan Kd = kemanjuran diri

Dalam bidang manajemen, rumus relativitas Einstein tersebut dapat direkayasa untuk ditransformasikan dalam bentuk Supra-Enerka sebagai berikut.

E = mc2 menjadi E = mc1c2

E = Energi kerja (Enerka) suatu organisasi

m = motivasi kerja para karyawan

c1 = cerdas kerja (kecerdasan kerja) karyawan

c2 = cerdas inovatif (kecerdasan inovatif) karyawan

Rumus modifikasi tersebut dinamakan rumus modifikasi quontum Supra.

2. Kecerdasan Kerja dan Kecerdasan Inovatif

a. Kecerdasan Kerja (c1)

Suatu organisasi mempunyai karyawan dengan kecerdasan kerja yang tinggi tentu saja akan membuat organisasi tersebut mempunyai energi kerja yang besar. Kecerdasan kerja tersebut timbul karena berkat akibat adanya kepercayaan diri (self esteam). Selain itu, kepercayaan diri yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang timbul akibat adanya keterampilan kerja yang mereka miliki. Mereka dapat bekerja dengan cermat, cepat dan akurat.

Dalam hal ini suatu oraganisasi yang mempunyai kecerdasan kerja yang tinggi dengan sendirinya akan mempunyai energi kerja yang besar pula. Bobot (nilai) kecerdasan kerja (c1) antara 1-10, dimana angka terkecil menunjukkan rendahnya kecerdasan kerja, sedangkan angka terbesar menunjukkan tingkat kecerdasan tinggi.

b. Kecerdasan Inovatif (c2)

Selain kecerdasan kerja yang mempengaruhi energi kerja yang dimiliki oleh suatu organisasi, terdapat kecerdasan lain yang sangat dominan atas energi kerja kelompok karyawan berkecerdasan inovatif dapat dipastikan organisasi tersebut mempunyai energi kerja yang sangat besar, sehingga dapat berkembang dengan cepat dan sangat kompetitif. Artinya, organisasi yang mempunyai kecerdasan inovatif adalah organisasi yang mempunyai orang-orang yang “sakti” atau manjur (efficacy). Contohnya Microsoft Inc., perusahaan ini mempunyai kecerdasan inovatif yang tinggi.

Bobot (nilai) dari kecerdasan inovatif antara 1-10 dimana angka terkecil menunjukkan kecerdasan inovatif rendah, sedangkan angka terbesar menunjukkan kecerdasan inovatif yang tinggi.

2 komentar:

sinjay school mengatakan...

waaah Aku di ajarin jadi orang ber-intelek nih. heeehe

paris mengatakan...

sangat membantu...

Posting Komentar